Banyak hal yang perlu dibenahi di negeri yang elok ini. Terutama para pemberi pencerahan yaitu sang pahlawan tanpa tanda jasa. Dedikasi seorang guru yang tak pernah mati dalam memberikan obor pelita kegelapan ini perlu diacungi jempol. Di balik sebuah semangat membara para penyandang profesi guru, ada sekumpulan guru yang salah niat. Mereka melakukan hal yang tak pantas diajarkan kepada anak didiknya. Perilaku yang tak pantas ditiru oleh anak didiknya, dan bisa menghancurkan cita – cita anak didiknya.
Setiap hal baik atau jelek yang menyangkut jabatan seorang guru akan terekspos ke dalam media jika mereka mau berfikir. Kita tahu selama ini pemerintah memperhatikan pondasi pendidikan negeri tapi pemerintah telah salah menerapkan sistem pendidikan saat ini. Adanya sertifikasi untuk pemberian imbalan lebih kepada para guru, membuat para guru bersorak – sorak mengejar sertifikasi tersebut. Dengan kata lain mereka melakukan hal – hal aneh untuk memperebutkan profesi guru bersertifikasi. Saya hanya mengungkapkan fakta di lapangan, ketika saya mendengar seorang guru melakukan “Bimtek di BPAD Yogyakarta”. Ada beberapa guru mengikuti bimtek itu hanya untuk mendapatkan sertifikat sebagai syarat sertifikasi. Anehnya guru itu tak merasa malu, sungguh mengenaskan negeri ini jika para pendidiknya hanya mengejar material semata. Mungkin para guru yang pernah mendapatkan imbalan sertifikasi sangat bangga dan imbalan tersebut bisa dibagi – bagikan ke sanak keluarga atau malah untuk membeli hal yang diperlukan. Mungkin ini adalah hal aneh ketika ada seorang guru melanjutkan studi S2 nya melenceng dari mata pelajaran yang diajarkan. Ini pernah terjadi, ada beberapa guru melanjutkan S2 nya ke jurusan non pendidikan yang menyimpang dari apa yang digeluti saat mengajar. Mereka hanya seolah – olah memperjuangkan profesi imbalan sertifikasi dan tak pernah memperhatikan kepentingan anak didiknya. Kadang ini pula yang akan menyebabkan kecemburuan terhadap beberapa guru yang lain sehingga mereka merasa di anak tirikan. Apakah para guru tak pernah melirik kehidupan para pengajar di daerah perbatasan? Guru di daerah perbatasan malah tak pernah menanyakan imbalan sertifikasi. Mereka lebih gigih dalam memberikan sesuap ilmu kepada anak didiknya. Walau harus merasa takut akan bangunan yang sewaktu – waktu roboh, serangan dari negeri seberang dan permasalahan suku. Saya paham, mungkin pemerintah kita melihat pedih penderitaan mereka tapi menteri pendidikan kita belum tentu pernah menginjakkan kaki di daerah perbatasan. Mungkin ini adalah salah satu kebodohan sistem pendidikan negeri ini. Hanya menciptakan generasi – generasi cerdas tapi tak punya hati nurani. Cepat atau lambat negeri ini bisa runtuh jika para pendidik hanya mementingkan kantongnya sendiri.
Selayaknya sebagai guru yang tidak dipandang sebelah mata oleh semua warga Negara Indonesia, manfaatkanlah profesi kalian demi masa depan negeri. Rintihan anak – anak jalanan yang tak pernah merasakan bangku pendidikan adalah kesedihan kalian semua. Tembok – tembok yang tak kokoh lagi adalah kekuatan kalian mengajarkan ilmu demi masa depan negeri. Atap – atap bangunan yang telah rusak, kalian tutupi dengan sebaris do’a dan ilmu yang bermanfaat. Pintu dan jendela yang telah hancur, kalian tutupi dengan sendau gurau yang bermotivasi. Lantai – lantai yang retak dan tak utuh adalah pondasi mengajar dengan keikhlasan tanpa melirik materi semata.
Negeri ini butuh pejuang, pahlawan, profesi seorang guru yang benar – benar mendidik dengan ikhlas. Andai bangunan tak ada dan guru ada masih tetaplah pendidikan itu berjalan. Tapi ketika guru itu tak ada dan bangunan masih utuh dan memukau negeri, itu sama halnya memberikan fasilitas yang tak bermanfaat. Ini negeri kita, jangan sampai kita menjadi bodoh di negeri sendiri. Sepatutnya bergotong royong kembali, luruskan niat demi anak didik negeri dan berikan sedikit senyuman keikhlasan sebagai tanda kasih sayang kita pada negeri ini.







0 Komentar:
Post a Comment