Monday, 22 September 2014

Di Balik Senja mulai Gelap Gulita



Hitam di sana serasa hampa
Kalau semua sudah tak ada
Biar raga sehebat baja
Tak mungkin menolak rasa

Sembari tertawa di waktu senja yang hampir gelap gulita
Anak-anak berlari memburu sarung dan pecinya,
Menuju langgar yang mengarah terbenamnya matahari di barat sana

Tak tahu itu kah senja di balik gelap gulita
Risau tak berada
Sejenak ku berkata
“Ku ingin ada bukan sampingan belaka”

Ku terhibur oleh suara-suara kakek tua di cerobong suara
Suaranya merdu indah seumpama musik klasik di negeri seberang sana
Hingga ku bertanya-tanya
Penting manakah Tuhan berada?

Di balik senja biarlah menjadi asa
Sujud sebentar hilanglah duka
Tapi asa kembali terisi di dada
Jawabnya dari sebelah saat sudah bertanya
Tapi memang sebelah ku lebihlah rupawan, pandai dan bijaksana

Ku berlari pulang menengok cahaya matahari
Ternyata sudah redup tak lagi berapi-api
Tinggal awan hitam bertebaran di sampingnya,
Mungkin sudah terisi senyum bulan yang lebih menawan
Putih bundar dan sempurna

Menepis Asa, 22 September 2014

2 Komentar: